Sajak Lemah

Jangan tanya, apa lagu yang kusuka. Dulu musik-musik berisik selalu memenuhi gawai. Bermega-mega byte menyesaki memori. Tiada menit-catat- tiada menit tanpa mendengarnya.

Jangan tanya, siapa penyanyi yang kuidola. Kebanyakan ya penyanyi dengan musik berisik, hanya sebagian kecil dengan musik yang lambat. Ejaan namanya, bahkan sampai lirik lagunya kuhafal semua.

Jangan tanya, berapa earphone yang kupunya. Dari mulai yang kecil, sampai bluetooth tak terhitung jumlahnya. Oh aku tak peduli berapa harganya, yang penting kualitas musik terdengar sempurna di telinga.

Lambat laun…

Ternyata lagu-lagu itu merepotkan. Gawai yang tak bisa menambah memori, mulai tersendat karena selalu ditambahkan lagu baru.

Lama kelamaan….

Ternyata lagu-lagu itu membosankan. Hanya menyenangkan di awal saja, selebihnya hanya bosan dan bosan.

Maka..

Ketika kuhentikan mendengar lagu itu, hidupku lebih senyap. Kesenyapan ini membuatku bisa berpikir lebih baik. Membuatku bisa lebih banyak waktu mencoba berbagai hal baru. Indah sekali hari-hari tanpa lagu, disibukkan dengan berbagai target pencapaian pribadi. Baru kutau, lagu benar-benar hiruk pikuk yang menyita waktu.

Namun suatu ketika, lemah pula pendirianku…

Mendengar musik yang menyenangkan melalui sebuah iklan. Sekian tahun tak pernah ada lagu dalam gawaiku, saat ini ada lagu itu. Meski hanya diperjalanan saja mendengarnya, lemah sekali prinsipku. Dikalahkan sebuah musik, yang dulu kuanggap tak menarik.

Karma

Pernah ga sih, pertama kali liat sesuatu, ngerasa yakin banget kalo itu weirdo, dan yakin juga kalo kita gabakalan suka sama sesuatu itu. Eh ternyata, kita suka beneran, dan terngiang-ngiang. Freak banget ga sih? Pernah ga?

Saya pernah beberapa kali, wkwkwk. Saya bilangnya karma.

Sepanjang yang saya ingat, sesuatu itu pernah berwujud orang, berwujud film, bahkan sekarang berwujud kurang lebih kombinasi keduanya.

Saya udah hampir ga pernah dengerin lagu lagi sejak 2 tahun terakhir, tapi gara-gara sesuatu itu….ealah, malah download mp3nya. Freak banget, freak (masih ga percaya, bisa suka sama hal itu :P).

Kau tahu, setiap pilihan memang ada risikonya. Pada titik jenuh, peralatan laboratorium macam pipet rasanya terlihat seperti teknologi terbaru yang diidamkan semua orang. Jas lab rasanya seperti baju kebesaran yang bangga dikenakan kemanapun. Bahkan data paling mentah sekalipun, layaknya logam mulia yang amat berharga untuk diolah. Ah tak pernah sedetikpun kulupa, bagaimana mekanisme kerja suatu […]

Sajak; Harusnya

Harusnya, hadiah yang kuberi dibungkus cantik dengan kertas kado. Tapi kau tahu, hadiah tak pernah kehilangan esensi meski tanpa dihiasi Harusnya, aku menulis kartu ucapan dengan kalimat menawan. Ah untuk ukuran kita, tak perlu lagi kartu ucapan, namun doa yang selalu dilantunkan Harusnya, hadiah diantarkan sembari berjabat tangan. Namun, tidak datang bukan berarti tak sayang, […]

Dalam suatu permasalahan, jalan keluarnya tak melulu soal materi. Terkadang kata-kata yang menenangkan, perbuatan baik dan kasih sayang jauh lebih mahal daripada sekedar nominal.

Kulihat dengan Mata Kepala Sendiri

Akhir-akhir ini sulit memang, menulis artikel ‘berisi’ disela tugas menulis artikel berisi pula di blog perusahaan. Sulit ya padanan katanya, kau tak paham? Tak apa, aku menulis hanya untuk dibagi, tak memintamu untuk memahami. Jadilah sempitnya waktuku lebih banyak melahirkan ‘metabolisme hati’ di kategori Refleksi, dibanding tulisan ‘berisi’ di Environmental Health dan Serbaneka. Maka tak usah repot membaca tulisan ini sampai habis, bila tak ingin pusing sendiri.

Berapa kali aku sengit membaca/mendengar kalimat “aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri”, ini sungguh contoh kalimat sia-sia (kataku waktu itu). Memangnya siapa yang bisa melihat dengan mata orang lain? Sinis sekali aku dulu.

Hari ini aku mengakui, kalimat itu sakti sekali untuk orang sepertiku. Bagi tipe visual sepertiku (yang kubicarakan adalah tipe-tipe pembelajar, ada visual/audio/kinestetik), membaca sendiri jauh lebih ‘kaya’ dibanding dibacakan/dirangkumkan oleh orang lain. Pagi ini, aku mendapat kiriman rangkuman JSR di grup whatsapp. Sahabatku ini memang sedang giat belajar/mempraktekkannya, ia tahu aku tertarik dengan hal itu (meski aku tak tahu, apakah anggota grup lain tertarik juga atau tidak) maka ia kirimkan file pdf itu ke grup. Terima kasih kawan.

Namun, aku tak perlu repot membukanya, karena tulisan itu tak ‘bernyawa’ bagiku. Bagaimana mungkin tulisan ada nyawanya? Bingung bukan. Bagiku, tulisan bernyawa adalah yang dibaca langsung dari penulis tangan pertama, bukan dari rangkuman orang kedua, ketiga, dst. Rumit sekali memang, macam barang saja ada tangan pertama, kedua dst. Mari kujelaskan, di media sosial banyak sekali rangkuman tentang JSR, baik berupa file pdf/gambar-gambar menarik beserta isinya/postingan orang kedua, ketiga dst. Tak jarang, di postingan tersebut ada modifikasi, penambahan, kreasi bahkan salah tafsir (untuk hal ini, bisa dialami oleh pembaca atau oleh pembuat postingan) dan sebagainya.

Kuberi contoh, ada sebuah repost (postingan ulang) resep terdiri dari kayu manis, jahe, kunyit, sereh dan jeruk nipis. Tak ada penjelasan manfaat masing2 bahan, hanya dicantumkan foto minuman tersebut. Apakah kalian serta merta membuatnya? Kalau aku tidak. Aku perlu tahu, apa manfaat minuman tersebut, apa manfaat masing2 bahan, apa yang membuat bahan tersebut istimewa, dan hal lainnya. Rumit memang, bila punya pikiran yang ‘ramai’ sepertiku. Riuh bertanya banyak hal dalam pikiran sendiri sampai menemukan apa jawabannya.

Tak ingin informasi buta, aku pasti langsung menuju sumber/penulis pertama postingan tersebut. Kubaca satu-persatu semua postingannya, dan disitulah aku menemukan ‘nyawa’ tulisan tersebut. Dari penulis pertama, banyak sekali kupanen hal-hal yang bersifat islami, banyak kupanen pengetahuan tambahan tentang kandungan bahan-bahan alam, banyak kupanen hal-hal baik, baru dan luar biasa, yang hanya beliau seorang yang menuliskannya secara jelas dari mulai bahan, resep, dan manfaatnya.

Kita harus adil sejak dalam pikiran. Tulisan ini bukan untuk menjelekkan siapapun, aku sangat bersyukur pada orang-orang yang rajin repost/merangkum, karena beberapa orang lebih bisa memahami dari rangkuman ketimbang aslinya. Jangan salah, akupun merangkum, namun rangkumanku kusimpan sendiri, aku tidak punya nyali menyiarkannya. Sama seperti tak ada nyaliku menyebarluaskan blog ini. O, baru kuingat, kuberikan rangkumanku pada sahabat/siapapun yang memintanya, tak masalah. Lagi-lagi aku tak butuh credit/sanjungan, aku cukup tau diri, tenang saja.

Hei, dari sedikit buku yang sudah kubaca, kulihat pikiran Minke sedikit banyak tak jauh beda denganku. Apa ada yang sama denganku?