Epitome : Bumi Manusia

Salah satu strategi untuk menolak lupa terhadap novel/buku yang telah saya baca adalah dengan menuliskan kembali pelajaran penting yang bisa diambil dari buku tersebut. Sayangnya, baru pertama kali ini saya terapkan. Tidak ada guna menyesali yang lalu, maka mari langsung saja ke pokok permasalahan.

Sudah lama novel ini, menjadi to do list untuk dibaca. Namun terkubur oleh buku-buku lain, macam A Brief History of Time, The Life Changing Magic of Tidying Up, beberapa artikel bertema Financial Management, Investasi dan lainnya (maklum, baca itu butuh mood, jadi kalo pengen baca novel, tapi moodnya lagi ke finansial, ya wes belok ke finansial hihihi). Sampai akhirnya, Bumi Manusia banyak diberitakan sudah diangkat menjadi film. Baiklah cukup sudah, saya mau membaca novelnya.

Pada novel ini, sosok yang saya kagumi adalah Sanikem/Nyai Ontosoroh. Potret wanita pribumi yang sukses membangun perusahaan pada zamannya. Diawali dengan pandai mengelola uang belanja, ditambah lagi, dengan ketekunannya dalam belajar segala hal, ia menjadi pribadi yang kuat, berkarakter, tegas tetapi sekaligus mampu berlemah lembut pada Annelies dan Minke. Kemampuannya tersebut merupakan buah dari masa lalu kelam, karena orang tuanya menjualnya demi jabatan/cari muka. Dia tidak bisa menentukan dengan siapa akan menikah, dia tidak mampu melawan takdir karena tak ada tempatnya bernaung/mengadu. Saya berpihak pada Sanikem yang tak pernah sudi menemui orang tuanya setelah ia dijual, karena memang, hati siapa yang tak luka bila dirinya dijadikan bahan jualan orang tuanya. Hati siapa yang tak hancur, bila terjebak seumur hidup dalam dunia per-nyai-an, yang pernikahannya dianggap tak sah, dipandang sebagai pelacur/simpanan. Yang lebih saya acungi jempol adalah, ditengah hiruk pikuk hidupnya (suaminya, Herman Mellema yang kacau balau sejak kedatangan anak kandungnya dari istri sah di Belanda. Anak pertamanya, Robert Mellema yang terlalu memuja eropa, dan tak sudi menganggap ibunya karena ia hanya pribumi. Menjalankan perusahaan seorang diri-dengan sedikit bantuan dari Annelies) beliau cukup visioner dengan bertekad dan bersungguh-sungguh, bahwa anaknya Annelies tak akan ia biarkan menderita seperti dirinya dulu. Salam hormat saya untuk Nyai Ontosoroh/Sanikem.

Max Tollenaar/Minke, saya selalu angkat topi untuk setiap anak laki-laki yang sangat mencintai/menghormati ibunya. Minke pun demikian. Pemuda yang aktif menulis untuk surat kabar, siswa terpelajar, dan banyak mendapatkan pelajaran kehidupan dari guru maupun teman-temannya. Namun, saya tidak membenarkan perilaku menyimpangnya (tidur bersama Annelies, masuk ke kamar Annelies, cium pipi/bibir, dan kesemuanya dilakukan sebelum mereka menikah), meski pada akhirnya Minke menikahi Annelies, perilakunya tetap tak bisa dibenarkan.

Salah satu kalimat yang masih sering saya ingat adalah “Adil sejak dalam pikiran” kata-kata dari Jean Marais. Seorang pelukis yang juga berhati mulia, menurut saya. Latar belakang masa lalunya, yang bertemu seorang wanita dan mohon untuk dibunuh olehnya, wanita tersebut merasa tak berharga karena sudah ternoda. May, anak dari wanita tersebut akhirnya diasuh oleh Jean Marais. Konon, wanita tersebut dibunuh oleh adiknya sendiri dengan rencong beracun.

Darsam pun favorit saya, selain karena ia centeng Nyai yang ditakuti, ia juga setianya bukan main. Bahkan berani menggertak Robert Mellema, karena sudah menyuruhnya untuk membunuh Minke. Hebatnya, Darsam akan melindungi semua yang disayangi oleh tuannya (Nyai dan Annelies).

Annelies, digambarkan sebagai dewi karena kecantikannya yang amat sangat. Anak Nyai Ontosoroh, yang sudah diajari bekerja sejak kecil. Hingga ia bertugas sebagai mandor untuk beberapa pekerjaan di perusahaannya. Tak punya teman, putus sekolah sejak peristiwa Herman Mellema bertingkah layaknya bang toyib (ga pulang-pulang, karena stress/gangguan jiwa terkait kedatangan anak dari istri sahnya).

Duo Robert, Suurhof dan Mellema, adalah tokoh yang paling keji manurut saya. Robert Mellema memperkosa adik kandungnya sendiri, usai berburu. Sedangkan Suurhof menyebar fitnah tentang Minke ke seluruh penjuru sekolah, karena sakit hati, Annelies lebih memilih Minke daripada dia.

Masih banyak tokoh lain memang, seperti dokter Martinus, Magda Peters, Dapperste, de la Croix bersaudara dan lainnya. Namun yang meninggalkan kesan ya hanya mereka yang dijelaskan diatas.

Sampai jumpa di epitome-epitome berikutnya, terima kasih sudah sudi membaca artikel ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s